Berbisnis Ide


Jangan salah kaprah. Memiliki ide sangat berbeda dengan menjual ide. Kamu bisa memiliki pemikiran kreatif tapi belum tentu kamu menghasilkan uang dari pemikiran kreatif tersebut. Sial-sial, orang lain yang untung dari ide kamu. Jika terjadi, sebenarnya itu salah kamu sendiri.

Saya punya cerita.

Alkisah…

Sekitar 10 tahun yang lalu, saya bersama Ambar, dulu manajer Pas Band dan beberapa band lainnya di Bandung, mendatangi kantor Detektif Production (nama disamarkan) di sebuah lokasi di Jakarta. Perusahaan yang terkenal dengan kemahirannya mengelola pertunjukan musik lokal dalam skala besar. Mahakarya Detektif Production salah satunya adalah Soundrenalay (nama disamarkan).

Waktu itu, Pas Band baru saja menyelesaikan tour keliling beberapa kota yang di organisir oleh Detektif. Ambar melihat banyak sekali keuntungan, jika band independen bisa ikut tour, apalagi tour skala besar. Istilahnya, album rekaman boleh di distribusikan sendiri (DIY, dan sejenisnya), tapi dengan mendapat tour, maka promosi penjualan album rekaman akan sangat terbantu. Sepulang mereka tour, kami bincang-bincang di rumah Richard Mutter, drummer Pas Band dulu. Kami yakin ada peluang, maka kamipun meminta waktu petinggi Detektif untuk bertemu.

Waktu itu saya ingat, kami telah bersiap dengan segala kemungkinan. Kami ingin sekali bisa menjadi bagian tour yang di organisir Detektif. Meski kami tahu peluangnya kecil, kami merasa memiliki beberapa ide, yang kami rasa bisa memberi nilai lebih bagi Detektif. Akhirnya kami nekat berangkat ke Jakarta.

Ditemui 2 petinggi Detektif, mulailah bincang-bincang kami. Waktu itu seingat saya, saya merasa bahwa perbincangan dengan mereka tidak sepadan. Mengapa tidak sepadan? Well, tentunya, kami hanyalah 2 manajer band underground (saat itu Ambar mewakili band Noin Bullet, band ska dari Bandung dan saya mewakili band saya sendiri Puppen, band hardcore juga dari Bandung), dan mereka adalah petinggi Detektif, yang pengalaman dan jam terbangnya di bisnis musik Indonesia sudah sangat banyak.

Tapi, kami merasa cukup pintar untuk melakukan negosiasi dan menjual ide kami. Apa ide kami? Banyak. Salah satunya adalah, well, teruskan membaca.

Ditengah perbincangan, kami melihat peluang, bahwa dengan membawa band seperti Puppen dan Noin Bullet, kami bisa menawarkan konser-konser yang berbeda dari yang biasa Detektif kelola. Waktu itu, saya yang bicara. Saya, kurang lebih, bilang, “Mas, kenapa ngga bikin tour yang pake tema? Selama ini kan Detektif bikin konsernya selalu seperti ‘Slank Tour 100 Kota’, ‘Gigi Tour 48 Kota’, dan sejenisnya. Dengan band seperti Puppen dan Noin Bullet, Detektif bisa bikin tour seperti ‘Detektif Rock tour’, Tour yang menggunakan Tema atau sejenisnya? Jadi dipisah-pisah, ada Pop, ada Rock, ada Jazz dan seterusnya”. Jawaban mas-mas dari Detektif, “Ah ga bakal laku”.

Waktu itu saya benar-benar merasa pintar. Saya pikir saya sudah menawarkan ide brilian. Akhirnya setelah dijawab ‘tidak’, kami pulang ke Bandung dengan tangan hampa. Tapi sejujurnya kami merasa masih memiliki secercah harapan. Karena kami tidak hanya datang ke Detektif sekedar mengemis, tapi juga menawarkan “ide brilian”.

Minggu demi minggu, bulan demi bulan berlalu, Detektif tidak kunjung memanggil band kami. Kami sampai lupa, bahwa kami pernah datang ke Detektif, hingga suatu hari kami terhenyak melihat advertising di TV. Ternyata, Detektif sudah siap dengan sebuah rangkaian konser dengan konsep musik yang berbeda, konsep musik yang bertema, dan menampilkan beberapa jenis dan warna musik.

Memiliki Ide Saja Tidak Cukup

Saya naif, kalau saya berpikir saya bahwa Detektif mencuri ide saya. Karena bisa saja mereka tiba-tiba mendapat wangsit dan mengeksekusinya jadi bisnis yang menguntungkan selama bertahun-tahun (no? :D ). Tetapi, yang utama, saya naif karena saya mengemukakan ide di depan orang lain, yang lebih pintar dan sudah sangat lebih berpengalaman dari saya.

Ide tersebut adalah ide bisnis yang cemerlang. Tentu, lihat saja hasilnya membuat konser dengan konsep seperti itu. Ide Detektif tersebut menghasilkan bisnis dan keuntungan untuk periode yang panjang.

Jangan jadi takut memiliki ide, karena semua bisnis sukses berasal dari sebuah ide atau mimpi. Tapi jika tidak dieksekusi, ya hanya sekedar ide, hanya sekedar mimpi.

Walhasil, yang dapat dipelajari dari cerita ini adalah:



Banyak, tetapi yang esensial adalah sebagai berikut:

- Kuasai ide hingga matang. Dari ide, pelaksanaan, hingga profit.

Punya ide saja tidak tidak akan menghasilkan apa-apa. Tanpa kemampuan mengeksekusi, ide tersebut hanyalah menjadi ide. Seperti mimpi yang tidak pernah menjadi nyata. Pihak yang mampu mengeksekusinya yang akan mendapat keuntungan. Saya pribadi, saat itu tidak memiliki kemampuan mengeksekusi ide tersebut sendiri.

- Tuliskan Ide Kamu

Memaparkan ide secara tertulis bisa menjadi aset sangat berharga. Kamu akan berterimakasih pada diri kamu sendiri ketika suatu hari melihat dokumentasi ide lama kamu. Dengan memaparkan ide secara tertulis, kamu bisa ingat ide dasarnya dan malah bisa mengembangkannya.

- Dalam dokument, jangan lupa sertakan semacam Confidentiality Agreement

Ini perlu dilakukan jika berhubungan dengan pihak lain. Karena ide sudah tertulis, maka buat juga dokumen Confidentiality Agreement. Isinya kurang lebih pernyataan bahwa yang membaca proposal ide/konsep kamu harus merahasiakannya.

- Bentuk Team

Sebagian besar ide bisnis tidak bisa kamu eksekusi sendiri. Cari partner. Gunakan prinsip partnership yang sebenarnya, yaitu berpartner dengan orang yang memiliki keahlian yang berbeda dengan kamu. Misalnya kamu bagian kreatif, cari partner bagian bisnis, dan seterusnya.

- Ikut seminar hak cipta atau konsultasi dengan profesional

Saya bukan ahli hak cipta, jadi saran saya bisa saja salah. Temui profesional yang mengerti masalah hak cipta dan sejenisnya.

- Temui pemodal yang punya sejarah bagus yang bisa kamu percaya

Untuk mengeksekusi ide, ujungnya kamu perlu uang. Biasanya pemodal/investor profesional tidak tertarik dengan ide bisnis dengan format projek. Tetapi lebih suka dengan model investasi jangka lebih panjang daripada sekedar projek. Cari Angel investor.

Jika ada masukan, silahkan mengisi kolom komentar dibawah.

Semoga Berguna.