<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>M.usik.us - Belajar Bisnis Musik &#187; Thoughts</title>
	<atom:link href="http://m.usik.us/category/thoughts/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://m.usik.us</link>
	<description>Blog Tentang Bisnis Musik dan Teknologi</description>
	<lastBuildDate>Thu, 25 Feb 2010 07:08:18 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
	<!-- podcast_generator="podPress/8.8" - maintenance_release="8.8.4" -->
		<copyright>Copyright &#xA9; 2010 M.usik.us - Belajar Bisnis Musik </copyright>
		<managingEditor>robin@m.usik.us ()</managingEditor>
		<webMaster>robin@m.usik.us ()</webMaster>
		<category>posts</category>
		<ttl>1440</ttl>
		<itunes:keywords></itunes:keywords>
		<itunes:subtitle></itunes:subtitle>
		<itunes:summary>An Always Alpha Music Search Engine Project</itunes:summary>
		<itunes:author></itunes:author>
		<itunes:category text="Society &amp; Culture"/>
		<itunes:owner>
			<itunes:name></itunes:name>
			<itunes:email>robin@m.usik.us</itunes:email>
		</itunes:owner>
		<itunes:block>No</itunes:block>
		<itunes:explicit>no</itunes:explicit>
		<itunes:image href="http://m.usik.us/wp-content/plugins/podpress/images/powered_by_podpress_large.jpg" />
		<image>
			<url>http://m.usik.us/wp-content/plugins/podpress/images/powered_by_podpress.jpg</url>
			<title>M.usik.us - Belajar Bisnis Musik</title>
			<link>http://m.usik.us</link>
			<width>144</width>
			<height>144</height>
		</image>
		<item>
		<title>Bagaimana Musisi Dapat Belajar dari Apple dan iPad</title>
		<link>http://m.usik.us/bagaimana-musisi-dapat-belajar-dari-apple-dan-ipad/</link>
		<comments>http://m.usik.us/bagaimana-musisi-dapat-belajar-dari-apple-dan-ipad/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Jan 2010 10:40:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Robin Malau</dc:creator>
				<category><![CDATA[Thoughts]]></category>
		<category><![CDATA[Apple]]></category>
		<category><![CDATA[iPad]]></category>
		<category><![CDATA[Steve Jobs]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://m.usik.us/?p=276</guid>
		<description><![CDATA[Seperti kita semua sudah tahu, dini hari tadi Apple Inc. launching produk terbarunya iPad. Seperti biasa, kritik dari segala penjuru menghunjam perusahaan itu (yang selalu berhasil membungkam kritik di akhir cerita). Hasil debat selama beberapa jam terakhir di seluruh penjuru web, ada 1 respon yang sangat menarik perhatian saya. Postingan dari David Appleyard, editor dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="clear: both; text-align: center;"><img class="size-full wp-image-277  aligncenter" title="iPad" src="http://m.usik.us/wp-content/uploads/2010/01/iPad.jpg" alt="" width="500" height="318" /></p>
<p style="clear: both;">Seperti kita semua sudah tahu, dini hari tadi Apple Inc. launching produk terbarunya <a title="iPad" href="http://www.apple.com/ipad/" target="_blank">iPad</a>. Seperti biasa, kritik dari segala penjuru menghunjam perusahaan itu (yang selalu berhasil membungkam kritik di akhir cerita).<span id="more-276"></span></p>
<p style="clear: both;">Hasil debat selama beberapa jam terakhir di seluruh penjuru web, ada 1 respon yang sangat menarik perhatian saya. Postingan dari David Appleyard, editor dari <a title="Mac Appstorm" href="http://mac.appstorm.net" target="_blank">Mac App Storm</a>, <a title="iPhone App Storm" href="http://iphone.appstorm.net/" target="_blank">iPhone App Storm</a>, founder dari blog web design terkenal <a title="Design Shack" href="http://designshack.co.uk/" target="_blank">Design Shack</a> dan segudang lainnya. Di blog pribadinya, David menulis artikel <a title="Respon to iPad's Critics" href="http://davidappleyard.net/post/357680363/in-response-to-the-ipad-criticism" target="_blank">In Response to the iPad Criticism</a>.</p>
<p><em>Apa yang dapat kita pelajari?</em></p>
<h4>1. Tidak ada produk yang sempurna</h4>
<p>Jika kamu mulai merilis dan menjual produk musik; seperti merchandise, album, dan lain sebagainya. Selain pujian, kamu akan menerima keluhan orang. Produk kamu kurang ini, produk kamu kurang itu. Dalam skala Apple, karena ekspektasi orang sangat tinggi atas nama besarnya, skala kritiknya <a href="http://www.google.co.id/search?q=ipad+sucks&amp;ie=utf-8&amp;oe=utf-8&amp;aq=t&amp;rls=org.mozilla:en-US:official&amp;client=firefox-a" target="_blank">SANGAT MASIF</a> dan <a title="iPad still sucks" href="http://twitter.com/#search?q=ipad%20sucks" target="_blank">SANGAT BRUTAL</a> (brutal dibaca: jujur).</p>
<p style="clear: both;">Semakin besar band kamu, semakin tinggi ekspektasi fans. Walhasil, jika tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan, kritik pun akan datang bertubi-tubi.</p>
<h4>2. Pasar tidak mengerti apa yang mereka mau</h4>
<p style="clear: both;">Steve Jobs, CEO Apple Inc. pernah berkata:</p>
<blockquote style="clear: both;"><p>It’s really hard to design products by focus groups. A lot of times, people don’t know what they want until you show it to them.” (Business Week, May 25, 1998)</p></blockquote>
<p style="clear: both;">Sebagian besar orang di dunia ini tidak tahu apa yang sebenarnya mereka mau, sampai kita berikan apa yang kita mau. Begitu kira-kira faktanya.</p>
<p style="clear: both;">Intinya, benar atau salah produk kamu atau sikap kamu, semuanya tidak relevan dengan kritik yang datang. Karena sebenarnya para kritikus itu pun tidak tau maunya apa.</p>
<h4>3. Pertahankan Idealisme</h4>
<p style="clear: both;">Meski saya yakin Apple Inc. akan mendengar dan mengambil masukan dari kritik, mereka tidak akan mundur dan tidak jadi menjual iPad (yang kira-kira akan ready to ship 60 hari dari sekarang).</p>
<p style="clear: both;">Di analisa David, sudah jelas Apple memiliki alasan yang kuat mengapa mereka tidak mengeluarkan fitur-fitur yang &#8216;diinginkan&#8217; para kritikus. Jika kamu mengeluarkan demo yang tidak disukai orang, tapi kamu percaya kamu memberikan yang terbaik untuk fans, apakah kamu akan mundur dan tidak jadi merilis album?</p>
<p style="clear: both;">Stay with what you know best, and always keep your promise to deliver.</p>
<h4>4. Komitmen untuk terus Belajar</h4>
<p style="clear: both;">Quote lain yang terkenal dapat kamu temukan pada <a title="Steve Jobs at Stanford" href="http://www.youtube.com/watch?v=UF8uR6Z6KLc" target="_blank">presentasi Steve Jobs di Stanford University sekitar 5 tahun yang lalu</a>.</p>
<blockquote style="clear: both;"><p>Stay Hungry, Stay Foolish</p></blockquote>
<p style="clear: both;">Berani mempertahankan pendapat tidak sama dengan tidak mau mendengar kata orang atau tidak mau belajar. Jangan pernah berhenti belajar.</p>
<h4 style="clear: both;">Kesimpulan:</h4>
<p style="clear: both;">Jadi musisi, jangan hanya belajar dari musisi lagi. Banyak yang kamu bisa pelajari dari orang di luar musik, karena banyak sekali orang-orang penuh kebijakan dan pengetahuan di luar sana. Go out and learn!</p>
<p style="clear: both;">Sekarang, pendapat saya pribadi tentang iPad: <strong>I WANT ONE!</strong></p>
<p><br class="final-break" style="clear: both;" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://m.usik.us/bagaimana-musisi-dapat-belajar-dari-apple-dan-ipad/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bertahan Hidup Tanpa Memenjarakan Fans</title>
		<link>http://m.usik.us/bertahan-hidup-tanpa-memenjarakan-fans/</link>
		<comments>http://m.usik.us/bertahan-hidup-tanpa-memenjarakan-fans/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Jan 2010 08:29:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Robin Malau</dc:creator>
				<category><![CDATA[Thoughts]]></category>
		<category><![CDATA[Business Model]]></category>
		<category><![CDATA[File Sharer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://m.usik.us/?p=258</guid>
		<description><![CDATA[Mike Masnick dari Techdirt memberikan presentasi The Future of Music Business (And Those Who Already There) kepada audience di MIDEM 2010. Menurut beliau, formula yang dilakukan oleh industri entertainment mainstream, kontra-produktif. Mereka yang terus berusaha mencari format copyright law baru di era internet, demi mempertahankan kendali yang sudah uzur, untuk menghentikan kegiatan file sharing, adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="clear: both;"><img style="text-align: center; display: block; margin: 0 auto 10px;" src="http://m.usik.us/wp-content/uploads/2010/01/data-loss-ceos-should-go-to-jail-thumb1.jpg" alt="" width="310" height="300" /><br />
Mike Masnick dari <a title="Techdirt" href="http://www.techdirt.com/" target="_blank">Techdirt</a> memberikan presentasi <a href="http://www.techdirt.com/articles/20091119/1634117011.shtml" target="_blank">The Future of Music Business (And Those Who Already There</a>) kepada audience di MIDEM 2010. Menurut beliau, formula yang dilakukan oleh industri entertainment mainstream, kontra-produktif. <span id="more-258"></span>Mereka yang terus berusaha mencari format copyright law baru di era internet, demi mempertahankan kendali yang sudah uzur, untuk menghentikan kegiatan file sharing, adalah kegiatan yang buang-buang waktu (tentu tidak buang waktu bagi International Association of Entertainment Lawyers, if you know what i&#8217;m saying <img src='http://m.usik.us/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> ).</p>
<p style="clear: both;">Masnick tidak hanya bicara, tetapi juga menawarkan solusi yang mudah, sederhana dan masuk akal (dan sudah jelas-jelas berhasil). Menurut beliau, industri sebaiknya menghentikan ketakutan dan kegelisahan, dan mulai untuk mengadopsi model bisnis musisi yang telah berhasil, yang malah memfungsikan file sharing sebagai peluang dan keuntungan.</p>
<p style="clear: both;">Formula model bisnis tersebut, secara sederhana bisa di definisikan sebagai berikut:</p>
<blockquote style="clear: both;"><p>Connect with Fans (CwF) + Reason to Buy (RtB) = The Business Model.</p></blockquote>
<p style="clear: both;">Beliau juga memaparkan daftar artis yang sudah berhasil mengimplementasikan model ini. Kita semua tahu cerita sukses dari Trent Reznor dan Radiohead, di presentasi ini, Mike juga memberikan cerita sukses dari artis yang relatif lebih kecil seperti Josh Freese, Jill Sobule dan lain sebagainya.</p>
<p>Jika diperhatikan, bisa ditarik garis lurus dari cerita sukses mereka.</p>
<ul style="clear: both;">
<li>Mereka tidak meminta honor untuk setiap kali orang mendengarkan lagu mereka.</li>
<li>Mereka tidak bermaksud untuk berbisnis lisensi seperti yang dilakukan oleh perusahaan rekaman.</li>
<li>Mereka tidak mengusung <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Manajemen_hak_digital" target="_blank">Digital Rights Management</a> sebagai senjata, tidak menuntut fans ke pengadilan dan tidak mempermasalahkan hak cipta.</li>
<li>Tetapi, yang mereka lakukan adalah mendekatkan diri dengan fans nya, memimpin dan mempersatukan fans, dan menawarkan mereka alasan yang nyata, unik dan langka untuk membeli musik &#8211; dimana akhirnya, mendapatkan solusi win-win antara musisi dan fans.</li>
</ul>
<p style="clear: both;"><strong>Hasilnya: </strong><br />
Fans mendapatkan apa yang mereka mau dengan harga yang mereka mau, sementara itu musisi dan perusahaan rekaman juga mendapatkan keuntungan.</p>
<p style="clear: both;">Cerita-cerita sukses tersebut sangat kontras dibanding apa yang sedang dilakukan major label. Baru saja, minggu lalu, kita tahu bahwa kegiatan promosi viral band OK Go di hentikan oleh labelnya, padahal sudah berjalan di lapak yang benar (pengumuman resmi OK Go <a href="http://okgo.forumsunlimited.com/index.php?showtopic=4169" target="_blank">bisa kamu lihat disini</a>).</p>
<p style="clear: both;">Untuk presentasi lengkap Mike Masnick, kamu <a href="http://www.techdirt.com/articles/20091119/1634117011.shtml" target="_blank">bisa meluncur kesini</a>. Worth every words of reading.</p>
<p style="clear: both;"><strong>Pertanyaannya sekarang&#8230;</strong><br />
Apakah major label akan mampu mempertahankan hidupnya sendiri dengan gaya angkuh dan tuanya, atau musisi independen kembali akan menjadi penyelamat industri rekaman (as they usually do)?</p>
<p><em>Image credit: <a href="http://www.zdnet.com/" target="_blank">ZDNet</a>.</em><br class="final-break" style="clear: both;" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://m.usik.us/bertahan-hidup-tanpa-memenjarakan-fans/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berbisnis Ide</title>
		<link>http://m.usik.us/berbisnis-ide/</link>
		<comments>http://m.usik.us/berbisnis-ide/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jan 2010 17:40:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Robin Malau</dc:creator>
				<category><![CDATA[Thoughts]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://m.usik.us/?p=226</guid>
		<description><![CDATA[Jangan salah kaprah. Memiliki ide sangat berbeda dengan menjual ide. Kamu bisa memiliki pemikiran kreatif tapi belum tentu kamu menghasilkan uang dari pemikiran kreatif tersebut. Sial-sial, orang lain yang untung dari ide kamu. Jika terjadi, sebenarnya itu salah kamu sendiri. Saya punya cerita. Alkisah&#8230; Sekitar 10 tahun yang lalu, saya bersama Ambar, dulu manajer Pas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="clear: both; text-align: left;"><img class="size-full wp-image-246  alignnone" style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 10px; display: inline;" src="http://m.usik.us/wp-content/uploads/2010/01/ideas-no-money.png" alt="" width="500" height="198" align="left" /><br style="clear: both;" />Jangan salah kaprah. Memiliki ide sangat berbeda dengan menjual ide. Kamu bisa memiliki pemikiran kreatif tapi belum tentu kamu menghasilkan uang dari pemikiran kreatif tersebut. Sial-sial, orang lain yang untung dari ide kamu. Jika terjadi, sebenarnya itu salah kamu sendiri.</p>
<p style="clear: both;">
<p style="clear: both;">Saya punya cerita.<span id="more-226"></span></p>
<p style="clear: both;">
<p style="clear: both;">
<h4>Alkisah&#8230;</h4>
<p style="clear: both;">
<p style="clear: both;">Sekitar 10 tahun yang lalu, saya bersama Ambar, dulu manajer Pas Band dan beberapa band lainnya di Bandung, mendatangi kantor Detektif Production (nama disamarkan) di sebuah lokasi di Jakarta. Perusahaan yang terkenal dengan kemahirannya mengelola pertunjukan musik lokal dalam skala besar. Mahakarya Detektif Production salah satunya adalah Soundrenalay (nama disamarkan).</p>
<p style="clear: both;">
<p style="clear: both;">Waktu itu, Pas Band baru saja menyelesaikan tour keliling beberapa kota yang di organisir oleh Detektif. Ambar melihat banyak sekali keuntungan, jika band independen bisa ikut tour, apalagi tour skala besar. Istilahnya, album rekaman boleh di distribusikan sendiri (DIY, dan sejenisnya), tapi dengan mendapat tour, maka promosi penjualan album rekaman akan sangat terbantu. Sepulang mereka tour, kami bincang-bincang di rumah Richard Mutter, drummer Pas Band dulu. Kami yakin ada peluang, maka kamipun meminta waktu petinggi Detektif untuk bertemu.</p>
<p style="clear: both;">
<p style="clear: both;">Waktu itu saya ingat, kami telah bersiap dengan segala kemungkinan. Kami ingin sekali bisa menjadi bagian tour yang di organisir Detektif. Meski kami tahu peluangnya kecil, kami merasa memiliki beberapa ide, yang kami rasa bisa memberi nilai lebih bagi Detektif. Akhirnya kami nekat berangkat ke Jakarta.</p>
<p style="clear: both;">
<p style="clear: both;">Ditemui 2 petinggi Detektif, mulailah bincang-bincang kami. Waktu itu seingat saya, saya merasa bahwa perbincangan dengan mereka tidak sepadan. Mengapa tidak sepadan? Well, tentunya, kami hanyalah 2 manajer band underground (saat itu Ambar mewakili band Noin Bullet, band ska dari Bandung dan saya mewakili band saya sendiri Puppen, band hardcore juga dari Bandung), dan mereka adalah petinggi Detektif, yang pengalaman dan jam terbangnya di bisnis musik Indonesia sudah sangat banyak.</p>
<p style="clear: both;">
<p style="clear: both;">Tapi, kami merasa cukup pintar untuk melakukan negosiasi dan menjual ide kami. Apa ide kami? Banyak. Salah satunya adalah, well, teruskan membaca.</p>
<p style="clear: both;">
<p style="clear: both;">Ditengah perbincangan, kami melihat peluang, bahwa dengan membawa band seperti Puppen dan Noin Bullet, kami bisa menawarkan konser-konser yang berbeda dari yang biasa Detektif kelola. Waktu itu, saya yang bicara. Saya, kurang lebih, bilang, &#8220;Mas, kenapa ngga bikin tour yang pake tema? Selama ini kan Detektif bikin konsernya selalu seperti &#8216;Slank Tour 100 Kota&#8217;, &#8216;Gigi Tour 48 Kota&#8217;, dan sejenisnya. Dengan band seperti Puppen dan Noin Bullet, Detektif bisa bikin tour seperti &#8216;Detektif Rock tour&#8217;, Tour yang menggunakan Tema atau sejenisnya? Jadi dipisah-pisah, ada Pop, ada Rock, ada Jazz dan seterusnya&#8221;. Jawaban mas-mas dari Detektif, &#8220;Ah ga bakal laku&#8221;.</p>
<p style="clear: both;">
<p style="clear: both;">Waktu itu saya benar-benar merasa pintar. Saya pikir saya sudah menawarkan ide brilian. Akhirnya setelah dijawab &#8216;tidak&#8217;, kami pulang ke Bandung dengan tangan hampa. Tapi sejujurnya kami merasa masih memiliki secercah harapan. Karena kami tidak hanya datang ke Detektif sekedar mengemis, tapi juga menawarkan &#8220;ide brilian&#8221;.</p>
<p style="clear: both;">
<p style="clear: both;">Minggu demi minggu, bulan demi bulan berlalu, Detektif tidak kunjung memanggil band kami. Kami sampai lupa, bahwa kami pernah datang ke Detektif, hingga suatu hari kami terhenyak melihat advertising di TV. Ternyata, Detektif sudah siap dengan sebuah rangkaian konser dengan konsep musik yang berbeda, konsep musik yang bertema, dan menampilkan beberapa jenis dan warna musik.</p>
<p style="clear: both;">
<p style="clear: both;">
<h4>Memiliki Ide Saja Tidak Cukup</h4>
<p style="clear: both;">
<p style="clear: both;">Saya naif, kalau saya berpikir saya bahwa Detektif mencuri ide saya. Karena bisa saja mereka tiba-tiba mendapat wangsit dan mengeksekusinya jadi bisnis yang menguntungkan selama bertahun-tahun (no? <img src='http://m.usik.us/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> ). Tetapi, yang utama, saya naif karena saya mengemukakan ide di depan orang lain, yang lebih pintar dan sudah sangat lebih berpengalaman dari saya.</p>
<p style="clear: both;">
<p style="clear: both;">Ide tersebut adalah ide bisnis yang cemerlang. Tentu, lihat saja hasilnya membuat konser dengan konsep seperti itu. Ide Detektif tersebut menghasilkan bisnis dan keuntungan untuk periode yang panjang.</p>
<p style="clear: both;">
<p style="clear: both;">Jangan jadi takut memiliki ide, karena semua bisnis sukses berasal dari sebuah ide atau mimpi. Tapi jika tidak dieksekusi, ya hanya sekedar ide, hanya sekedar mimpi.</p>
<p style="clear: both;">
<p style="clear: both;">
<h3>Walhasil, yang dapat dipelajari dari cerita ini adalah:</h3>
<p style="clear: both;">
<p style="clear: both;"><img class="size-full wp-image-249 aligncenter" style="display: inline; float: left; margin: 0 10px 10px 0;" title="ideas with money" src="http://m.usik.us/wp-content/uploads/2010/01/ideas-with-money.png" alt="" width="500" height="198" align="left" /><br style="clear: both;" /><br style="clear: both;" /></p>
<p>Banyak, tetapi yang esensial adalah sebagai berikut:</p>
<h4>- Kuasai ide hingga matang. Dari ide, pelaksanaan, hingga profit.</h4>
<p style="clear: both;">
<p style="clear: both;">Punya ide saja tidak tidak akan menghasilkan apa-apa. Tanpa kemampuan mengeksekusi, ide tersebut hanyalah menjadi ide. Seperti mimpi yang tidak pernah menjadi nyata. Pihak yang mampu mengeksekusinya yang akan mendapat keuntungan. Saya pribadi, saat itu tidak memiliki kemampuan mengeksekusi ide tersebut sendiri.</p>
<p style="clear: both;">
<p style="clear: both;">
<h4>- Tuliskan Ide Kamu</h4>
<p style="clear: both;">
<p style="clear: both;">Memaparkan ide secara tertulis bisa menjadi aset sangat berharga. Kamu akan berterimakasih pada diri kamu sendiri ketika suatu hari melihat dokumentasi ide lama kamu. Dengan memaparkan ide secara tertulis, kamu bisa ingat ide dasarnya dan malah bisa mengembangkannya.</p>
<p style="clear: both;">
<p style="clear: both;">
<h4>- Dalam dokument, jangan lupa sertakan semacam Confidentiality Agreement</h4>
<p style="clear: both;">
<p style="clear: both;">Ini perlu dilakukan jika berhubungan dengan pihak lain. Karena ide sudah tertulis, maka buat juga dokumen Confidentiality Agreement. Isinya kurang lebih pernyataan bahwa yang membaca proposal ide/konsep kamu harus merahasiakannya.</p>
<p style="clear: both;">
<p style="clear: both;">
<h4>- Bentuk Team</h4>
<p style="clear: both;">
<p style="clear: both;">Sebagian besar ide bisnis tidak bisa kamu eksekusi sendiri. Cari partner. Gunakan prinsip partnership yang sebenarnya, yaitu berpartner dengan orang yang memiliki keahlian yang berbeda dengan kamu. Misalnya kamu bagian kreatif, cari partner bagian bisnis, dan seterusnya.</p>
<p style="clear: both;">
<p style="clear: both;">
<h4>- Ikut seminar hak cipta atau konsultasi dengan profesional</h4>
<p style="clear: both;">
<p style="clear: both;">Saya bukan ahli hak cipta, jadi saran saya bisa saja salah. Temui profesional yang mengerti masalah hak cipta dan sejenisnya.</p>
<p style="clear: both;">
<p style="clear: both;">
<h4>- Temui pemodal yang punya sejarah bagus yang bisa kamu percaya</h4>
<p style="clear: both;">
<p style="clear: both;">Untuk mengeksekusi ide, ujungnya kamu perlu uang. Biasanya pemodal/investor profesional tidak tertarik dengan ide bisnis dengan format projek. Tetapi lebih suka dengan model investasi jangka lebih panjang daripada sekedar projek. Cari Angel investor.</p>
<p style="clear: both;">
<p style="clear: both;">Jika ada masukan, silahkan mengisi kolom komentar dibawah.</p>
<p style="clear: both;">
<p style="clear: both;">Semoga Berguna.</p>
<p><br class="final-break" style="clear: both;" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://m.usik.us/berbisnis-ide/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sejarah Industri Rekaman Menolak Inovasi</title>
		<link>http://m.usik.us/sejarah-industri-rekaman-menolak-inovasi/</link>
		<comments>http://m.usik.us/sejarah-industri-rekaman-menolak-inovasi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Jan 2010 08:13:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Robin Malau</dc:creator>
				<category><![CDATA[Thoughts]]></category>
		<category><![CDATA[Industri Rekaman]]></category>
		<category><![CDATA[Inovasi]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://m.usik.us/?p=234</guid>
		<description><![CDATA[Inovasi itu penting, karena inovasi juga berarti perubahan. Tapi pihak yang merasa tidak diuntungkan biasanya tak sependapat. Dengan kata lain, tidak semua orang senang berubah. Innovasi teknologi tidak hanya mampu merubah industri teknologi, tetapi juga menularkan perubahan ke industri lainnya. Termasuk industri musik, yang di dalamnya ada industri rekaman. Sejarah pun membuktikan, manusia berpihak pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-240" title="idea" src="http://m.usik.us/wp-content/uploads/2010/01/idea.png" alt="" width="300" height="492" /></p>
<p>Inovasi itu penting, karena inovasi juga berarti perubahan. Tapi pihak yang merasa tidak diuntungkan biasanya tak sependapat. Dengan kata lain, tidak semua orang senang berubah. Innovasi teknologi tidak hanya mampu merubah industri teknologi, tetapi juga menularkan perubahan ke industri lainnya. Termasuk industri musik, yang di dalamnya ada industri rekaman. Sejarah pun membuktikan, manusia berpihak pada teknologi yang memiliki nilai, yaitu teknologi yang membuat hidup manusia lebih mudah.<span id="more-234"></span></p>
<p>Alasan yang menjadi kendala industri rekaman untuk mengadopsi teknologi adalah relevansi industri tercinta dengan hak cipta. Hak cipta, dalam hal ini hak cipta lagu, merupakan kunci industri rekaman untuk berbisnis dan bertahan hidup. Dengan memonopoli hak cipta lagu, yang dimiliki oleh musisi, industri rekaman bisa dengan leluasa menjual rekaman musik dengan format apapun yang mereka mau, dengan cara apapun yang mereka mau. Sehingga, penolakan yang mereka lakukan adalah melindungi kepentingan bisnis, yang mebuat status quo seperti naluri alamiah.</p>
<p>Artikel ini bukan bermaksud mempertentangkan inovasi teknologi dan hak cipta, dalam industri rekaman. Dan bukan juga berarti inovasi teknologi selalu bertentangan dengan hak cipta. Tetapi, berdasarkan bukti sejarah, inovasi teknologi selalu mendahului kemampuan industri rekaman menemukan cara-cara baru untuk melindungi hak cipta musik. Walhasil, industri rekaman berulangkali kehilangan muka, karena di dahului oleh teknologi.</p>
<p>Orang bijak berkata, &#8220;Jangan berubah jika belum rusak&#8221;. Ironisnya, industri rekaman adalah penopang industri musik, yang masuk ke dalam sebuah industri yang dinamakan Industri Kreatif. Sikap memelihara produk dan model bisnis yang stagnan dari industri rekaman itu, dalam setiap fase perkembangan teknologi, menjadi kontra produktif bagi mereka sendiri. Yang ujungnya menjadi korban adalah semua stakeholder, termasuk di dalamnya, pemasok primer produk industri rekaman, yaitu Musisi dan penulis lagu.</p>
<p>Tak heran, respon dari industri rekaman selalu Status Quo, dan pada masa-masa buruk, mereka panik dan menggunakan tangan besi. Ironis memang. Tapi memang, rutinitas itu yang selalu terjadi.</p>
<p>Dibawah ini adalah beberapa contoh sejarah penolakan inovasi oleh industri rekaman:</p>
<h4><strong>60an &#8211; Standar Perekam Kaset</strong></h4>
<p>Kala itu piringan hitam merupakan format phonogram utama yang menjadi standar industri. Teknologi ini sangat susah di re-distribusikan, karena cara produksi piringan hitam tidak mudah untuk dijadikan teknologi handy, yang bisa menjangkau konsumen rumahan. Saat itu, muncul standarisasi baru, penggunaan Cassette Recorder dan Pita Kaset sebagai format rekaman phonograph, dan industri rekaman menolaknya, hingga akhirnya mendapatkan share yang &#8216;fair&#8217; dari produksi kaset.</p>
<h4><strong>80an &#8211; MTV</strong></h4>
<p>Ketika MTV berdiri tahun 1982, industri rekaman menolak memberikan video klip dari artisnya untuk diputar di MTV. Karena sebelumnya, video klip tidak bisa didapatkan secara gratis oleh penggemar atau pasar musik. Ujungnya, sejarah membuktikan, MTV menjadi salah satu kunci utama kegiatan promosi album rekaman artis.</p>
<h4><strong>80an &#8211; Compact Disc</strong></h4>
<p>Compact disc atau CD masuk ke pasar di tahun 80an. Industri rekaman menolak keras digitalisasi musik.</p>
<h4><strong>Akhir 90an, MP3 player</strong></h4>
<p>Musik format .mp3 ditemukan, dan mp3 player pun mulai hadir di pasaran. Yang dilakukan oleh industri rekaman bukanlah mencari jalan agar bisnis mereka tetap menguntungkan, tetapi malah menuntut pembuat Rio MP3 player.</p>
<h4><strong>1999 &#8211; Napster</strong></h4>
<p>Di tahun 1999, Napster dituntut beramai-ramai ke pengadilan. Napster menyatakan bangkrut, dan kemudian muncul kembali dengan model bisnis subscription. Apapun yang terjadi pada Napster, mereka mengubah industri rekaman, selamanya.</p>
<p>Dari sejarah penolakan tersebut, sudah jelas alasan industri rekaman menolak inovasi teknologi. Karena dengan munculnya teknologi baru yang memudahkan pasar mendapatkan musik, juga berarti industri rekaman harus menemukan cara baru untuk tetap bisa menjual album rekaman.</p>
<h4><strong>Yang dapat dipelajari:</strong></h4>
<ol>
<li>Respon awal industri rekaman selalu berkesan panik. Terlihat jelas mereka memang selalu &#8216;kecolongan&#8217;. Tidak punya persiapan.</li>
<li>Sejarah kembali membuktikan, industri rekaman akan mengalah kalah pada teknologi, dan terpaksa mencari cara-cara baru untuk bertahan hidup.</li>
<li>Perusahaan rekaman terbukti tidak pernah &#8216;menang&#8217; melawan teknologi. Karena sebenarnya ini bukan masalah menang dan kalah.</li>
<li>Kunci untuk membuat industri rekaman mengaku kalah adalah settlement. Dengan berbagi keuntungan dengan baik, perusahaan rekaman akan menyerah.</li>
<li>Perusahaan rekaman yang cepat mengadopsi teknologi dengan cepat belum tentu bisa keluar menjadi pemenang, meski bisa menjadi pionir. Karena dari kasus-kasus diatas, mereka selalu berkoalisi untuk ber-status quo dan menggunakan tangan besi. Mengadopsi inovasi, tidak dapat dilakukan pada level korporat, harus pada level industri.</li>
<li>Industri rekaman harus berubah. Alasan &#8220;saya sudah tua dan berdasi, saya tidak punya waktu untuk ngulik teknologi&#8221; sudah bisa dikategorikan inkompetensi. Hmmm&#8230; Regenerasi?</li>
</ol>
<p>Semoga berguna.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://m.usik.us/sejarah-industri-rekaman-menolak-inovasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pembajak Teriak Pembajak</title>
		<link>http://m.usik.us/pembajak-teriak-pembajak/</link>
		<comments>http://m.usik.us/pembajak-teriak-pembajak/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 15:21:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Robin Malau</dc:creator>
				<category><![CDATA[Thoughts]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://m.usik.us/?p=217</guid>
		<description><![CDATA[Sejak format kaset dan CD dibajak, musisi sudah sering mengekspresikan perasaannya tentang pembajakan. Mengirim pesan &#8220;jangan beli album bajakan&#8221; sudah seperti keharusan dari musisi setiap kegiatan interview, terutama live interview di Radio dan TV. Saya pribadi tidak yakin pembajakan adalah masalah utama yang sedang dihadapi oleh industri rekaman sekarang. Menurut saya orang-orang hanya mencari kambing [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-218 aligncenter" title="pirate" src="http://m.usik.us/wp-content/uploads/2009/11/pirate.jpg" alt="pirate" /></p>
<p>Sejak  format kaset dan CD dibajak, musisi sudah sering mengekspresikan perasaannya tentang pembajakan. Mengirim pesan &#8220;jangan beli album bajakan&#8221; sudah seperti keharusan dari musisi setiap kegiatan interview, terutama live interview di Radio dan TV.</p>
<p>Saya pribadi tidak yakin pembajakan adalah masalah utama yang sedang dihadapi oleh industri rekaman sekarang. Menurut saya orang-orang hanya mencari kambing hitam. Pertanyaannya adalah, jika pembajakan berhasil dihentikan, apakah orang-orang kembali membeli CD atau kaset?<span id="more-217"></span></p>
<p>Lagipula dengan adanya pembajakan, meski belum terjamin menjadi sarana promosi yang efektif, otomatis album rekaman seorang artis akan tersebar lebih luas dibanding jika musisi hanya bergantung pada rekaman &#8216;legal&#8217; untuk mendistribusikan albumnya. Ini akan menghasilkan efek domino bagi potensi penghasilan musisi lainnya seperti di book untuk show, penjualan merchandise, sponsorship dan lain sebagainya.</p>
<p>Entah darimana attitude ini bermula. Yang pasti, entah mengerti permasalahan atau tidak, musisi keranjingan bertingkah seperti korban, dan menuntut orang-orang terutama kepada pihak berwenang agar pembajakan dihentikan.</p>
<p>Yang berputar-putar di kepala saya saat ini adalah:</p>
<ol>
<li>Jaman sekarang adalah jaman digital. Kegiatan produksi musik dan mendengar musik sedang berpindah secara massal dari CD/kaset player tradisional ke MP3 player. Musisi sendiri banyak yang pindah ke format ini. Apakah musik di MP3 plater mereka bukan bajakan?</li>
<li>Masalah bajak membajak, saya ingin lihat komputer yang digunakan musisi, apakah software mereka bukan bajakan???</li>
</ol>
<p>Yang dapat dipelajari:</p>
<ol>
<li>Pembajakan adalah budaya dan budaya tidak bisa diberantas (jika bisa, tidak bisa dengan teriak-teriak hentikan pembajakan!)</li>
<li>Musisi dapat memberikan pendidikan kepada fans nya, bahwa mengoleksi CD itu cool dan sejenisnya (diberi pengetahuan, bukan disuruh menghentikan kebiasaan).</li>
<li>Musisi dan tim bisnis nya harus mendefinisikan model bisnis baru, tidak bisa bergantung pada penjualan album rekaman.</li>
<li>Jaman berubah, change yourself!</li>
</ol>
<p>Gambar dari <a href="http://www.flickr.com/photos/joriel/3230590513" target="_blank">Flickr</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://m.usik.us/pembajak-teriak-pembajak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terpaksa Jadi Pengusaha</title>
		<link>http://m.usik.us/terpaksa-jadi-pengusaha/</link>
		<comments>http://m.usik.us/terpaksa-jadi-pengusaha/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Mar 2009 10:08:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Robin Malau</dc:creator>
				<category><![CDATA[Thoughts]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://m.usik.us/?p=207</guid>
		<description><![CDATA[Artikel di New York Times ini menggambarkan prinsip terjadinya kewirausahaan. Menjadi pengusaha karena terpaksa. Menjadi pengusaha karena harus menjadi pengusaha. Seorang lulusan Duke University jurusan Biologi dipecat dari pekerjaannya bulan Mei tahun lalu. Sesudah berbulan-bulan menjadi pekerjaan baru (baca=melamar pekerjaan), akhirnya ia mendirikan bisnisnya sendiri sejak September tahun lalu. Ia membuat akuarium, dengan teknologi baru, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Economic Recession" src="http://m.usik.us/wp-content/uploads/2009/03/economic-recession.jpg" alt="" width="500" height="333" /></p>
<p>Artikel di <a href="http://www.nytimes.com/2009/03/14/technology/start-ups/14startup.html?_r=2&amp;hp" target="_blank">New York Times ini</a> menggambarkan prinsip terjadinya kewirausahaan. Menjadi pengusaha karena terpaksa. Menjadi pengusaha karena harus menjadi pengusaha.</p>
<p>Seorang lulusan Duke University jurusan Biologi dipecat dari pekerjaannya bulan Mei tahun lalu. Sesudah berbulan-bulan menjadi pekerjaan baru (baca=melamar pekerjaan), akhirnya ia mendirikan bisnisnya sendiri sejak September tahun lalu. Ia membuat akuarium, dengan teknologi baru, yang dapat membantu mahluk laut yang rentan, seperti ubur-ubur, bertahan hidup. Ia berhasil menjual sebuah akuarium ke restaurant dan sisanya menjadi sejarah.</p>
<p>Di <a href="http://m.usik.us/kewirausahaan-apa-itu/" target="_blank">postingan ini</a>, saya menyampaikan bahwa secara teori, rumus terjadinya kewirausahaan adalah:<span id="more-207"></span></p>
<p><strong>BAKAT &amp; MENTAL + KETERAMPILAN + LINGKUNGAN + TRIGGERING EVENT</strong></p>
<p>Ahli ekonomi mengatakan bahwa setiap ekonomi jatuh, makan biasanya orang terpaksa menjadi pengusaha karena bakat menjadi pengusahanya akan muncul. That&#8217;s what we can call triggering event.</p>
<p>Blessing in disguise.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://m.usik.us/terpaksa-jadi-pengusaha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Small Business Solutions</title>
		<link>http://m.usik.us/small-business-solutions/</link>
		<comments>http://m.usik.us/small-business-solutions/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Mar 2009 08:25:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Robin Malau</dc:creator>
				<category><![CDATA[Thoughts]]></category>
		<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[Small Business]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://m.usik.us/?p=200</guid>
		<description><![CDATA[Presentasi dari buku Small Business Solutions oleh Robert Hisrich yang saya buat 2 tahun yang lalu:]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Presentasi dari buku Small Business Solutions oleh Robert Hisrich yang saya buat 2 tahun yang lalu:</p>
<div id="__ss_87139" style="width: 425px; text-align: left;"><object width="551" height="462" data="http://static.slideshare.net/swf/ssplayer2.swf?doc=small-business-solutions1249&amp;stripped_title=small-business-solutions" type="application/x-shockwave-flash"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="src" value="http://static.slideshare.net/swf/ssplayer2.swf?doc=small-business-solutions1249&amp;stripped_title=small-business-solutions" /><param name="allowfullscreen" value="true" /></object></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://m.usik.us/small-business-solutions/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kewirausahaan Dalam Musik</title>
		<link>http://m.usik.us/kewirausahaan-dalam-musik/</link>
		<comments>http://m.usik.us/kewirausahaan-dalam-musik/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Feb 2009 06:03:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Robin Malau</dc:creator>
				<category><![CDATA[Thoughts]]></category>
		<category><![CDATA[Kewirausahaan]]></category>
		<category><![CDATA[Kreatifitas dan Inovasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://m.usik.us/?p=101</guid>
		<description><![CDATA[Ada kewirausahaan di dunia Musik? Tentu. Pada dasarnya, sistem ekonomi dibangun oleh sistem kewirausahaan. Jadi, di semua industri ada yang namanya kewirausahaan. Secara umum, kewirausahaan di bidang musik sama seperti kewirausahaan di industri lainnya. Yang membedakannya adalah keterampilan yang dibutuhkan dan strategi komunikasi bisnisnya. Bayangkan ilustrasi ini: Ide produk = ide lagu, Presentasi produk = [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-129 aligncenter" title="wisdom-of-music" src="http://m.usik.us/wp-content/uploads/2009/02/wisdom-of-music.jpg" alt="wisdom-of-music" /></p>
<p>Ada kewirausahaan di dunia Musik? Tentu.</p>
<p>Pada dasarnya, sistem ekonomi dibangun oleh sistem kewirausahaan. Jadi, di semua industri ada yang namanya kewirausahaan. Secara umum, kewirausahaan di bidang musik sama seperti kewirausahaan di industri lainnya. Yang membedakannya adalah keterampilan yang dibutuhkan dan strategi komunikasi bisnisnya.<span id="more-101"></span></p>
<p>Bayangkan ilustrasi ini:</p>
<ul>
<li>Ide produk = ide lagu,</li>
<li>Presentasi produk =  show yang sukses,</li>
<li>Team Work yang efektif = band yang kompak.</li>
<li>Dan seterusnya.</li>
</ul>
<p>Kewirausahaan dalam musik bisa saja berbentuk musisi yang mendirikan band dan mencari nafkah lewat musik, atau orang yang memulai bisnis musik (baca: mendirikan perusahaan musik). </p>
<p>Dengan mengerti definisi kewirausahaan, harapannya adalah, para pengusaha musik ini dapat</p>
<ol>
<li>Berpikir kreatif, dan</li>
<li>Menciptakan Inovasi dalam bidang bisnis musik. </li>
</ol>
<h3><strong>Berpikir Kreatif dalam Musik</strong></h3>
<p>Definisi Kreatifitas yang paling umum adalah:</p>
<blockquote><p>Think the New Thing</p></blockquote>
<p>Jadi, jangan sangka, dengan sekedar memainkan komposisi musik, berarti kamu sudah jadi orang kreatif. Jika hanya melakukan komposisi rutin, melakukan panggung rutin, lantas apa kreatifnya? Itu namanya rutinitas, bukan kreatifitas. Berpikir kreatif dalam bisnis musik misalnya memikirkan cara-cara baru dan komposisi-komposisi baru dalam bermusik.</p>
<h3><strong>Menciptakan Inovasi Dalam Musik</strong></h3>
<p><strong></strong>Definisi Inovasi yang paling mudah diingat adalah:</p>
<blockquote><p>Do The New Thing</p></blockquote>
<p>Jika kamu tidak melakukan hal yang baru di bisnis musik kamu, maka kamu tidaklah ber-inovasi dan secara tidak langsung, kamu tidak melakukan kewirausahaan.</p>
<p><strong>Contoh. </strong></p>
<p>Akhir-akhir ini dunia &#8216;dikejutkan&#8217; oleh pembajakan musik yang semakin merajalela, penyebaran musik ilegal di internet, upaya <em>Digital Rights Management</em> yang hampir selalu gagal total dan lain sebagainya. Sebenarnya kita harus heran jika kita terkejut akan tren ini, karena masa ini memang sudah jelas akan datang menghampiri.</p>
<p>Jika melihat ke belakang, bukankah kita sudah melewati perubahan sejenis beberapa kali? Dari konsumsi Piringan Hitam ke Kaset, dari Kaset ke CD, dan sekarang dari CD ke Musik Digital.</p>
<p>Dalam masa sulit seperti sekarang ini, kewirausahaan dapat menjadi penyelamat. Ngga sedikit perusahaan musik baru yang muncul justru pada masa sulit. Contoh konkrit-nya adalah <a href="http://www.livenation.com/" target="_blank">Live Nation</a>. Live Nation memang bukan perusahaan baru, tetapi justru mereka bisa menjadi perusahaan yang lebih besar lagi saat Industri Musik sedang &#8216;sekarat&#8217;. Model bisnis nya sedikit berbeda, karena Live Nation bukanlah perusahaan rekaman. Mereka fokus berbisnis untuk menjual tiket konser.  Mengapa mereka jadi besar? Salah satunya, menurut saya adalah justru karena pembajakan musik. </p>
<p>Dengan adanya pembajakan musik, justru semakin membuka pasar (penggemar musik) lebih luas, karena mereka sekarang dapat menikmati musik di <em>digital music player</em> mereka tanpa harus membayar. Dengan semakin mengenal artis-nya, mereka jadi ingin nonton konser. Maka, jalur uang pun berpindah, yang dulunya dari pasar ke perusahaan rekaman, sekarang ke bisnis-bisnis yang berhubungan dengan produksi Live Show, seperti para pengusaha tiket konser, penyedia sound system dan lain sebagainya.  </p>
<p>Dan yang harus lebih diperjelas adalah: <strong>Industri Musik Tidak Mati</strong>, tetapi industri rekaman musik memang sedang terseok-seok.</p>
<p>Siap Berwirausaha Musik?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://m.usik.us/kewirausahaan-dalam-musik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kewirausahaan, Apa Itu?</title>
		<link>http://m.usik.us/kewirausahaan-apa-itu/</link>
		<comments>http://m.usik.us/kewirausahaan-apa-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Feb 2009 12:11:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Robin Malau</dc:creator>
				<category><![CDATA[Thoughts]]></category>
		<category><![CDATA[Kewirausahaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://m.usik.us/?p=68</guid>
		<description><![CDATA[Jika kamu mencari definisi kewirausahaan, maka yang muncul banyak versi. Tetapi, sebenarnya semua versi merujuk ke arah yang sama. Dibawah ini adalah beberapa definisi kewirausahaan menurut akademisi: “Entrepreneurship is the process of creating something new with value by devoting the necessary time and effort, assuming the accompanying financial, psyshic, and social risk, and receiving the resulting [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-85 aligncenter" title="gold_02" src="http://m.usik.us/wp-content/uploads/2009/02/gold_02.jpg" alt="gold_02" /></p>
<p style="text-align: left;">Jika kamu mencari definisi kewirausahaan, maka yang muncul banyak versi. Tetapi, sebenarnya semua versi merujuk ke arah yang sama.<span id="more-68"></span> Dibawah ini adalah beberapa definisi kewirausahaan menurut akademisi:</p>
<blockquote><p>“Entrepreneurship is the process of creating something new with value by devoting the necessary time and effort, assuming the accompanying financial, psyshic, and social risk, and receiving the resulting rewards of monetary and personal satisfaction and independence.”<br />
Hisrich, Peters, Shepperd, 2005; 8</p></blockquote>
<p>Sementara itu, Prof. Yuyun Wirasasmita mendefinisikan Kewirausahaan sebagai:</p>
<blockquote><p>“Proses kemanusiaan yang berkaitan dengan kreatifitas dan inovasi dalam memahami peluang, mengorganisasi sumber-sumber, mengelola sehingga peluang itu terwujud menjadi suatu usaha yang mampu menghasilkan laba atau nilai dalam jangka waktu yang lama”</p></blockquote>
<p>Dari dua definisi di atas, kata kunci dari pengertian kewirausahaan adalah:</p>
<ol>
<li>Proses Penciptaan nilai.</li>
<li>Kreatifitas &amp; Inovasi.</li>
<li>Pengelolaan, Kepuasan dan Laba. </li>
</ol>
<p>Kesimpulannya, Kewirausahaan adalah sebuah proses kemanusiaan yang menghasilkan kepuasan dan laba jangka panjang dengan cara mengelola dan menciptakan nilai. Jadi, sebuah proses kewirausahaan dapat dikenali dari elemen-elemen diatas.</p>
<p>Sementara itu, pelaku kewirausahaan (entrepreneurship) adalah wirausaha (Entrepreneur) atau wiraswasta:</p>
<blockquote><p>“An entrepreneur is one who creates a new business in the face of risk and uncertainty for the purpose of achieving profit and growth by identifying opportunities and assembling the necessary resources to capitalize on them.”<br />
(Zimmerrer, Scarborough, 2002; 4)</p>
<p>“Entrepreneur berarti orang yang memulai (The Originator) sesuatu usaha bisnis baru. Atau seorang manajer yang berusaha memperbaiki sebuah unit keorganisasian melalui serangkaian perubahan-perubahan produktif”.<br />
(Winardi, 2003:71)</p></blockquote>
<p>Secara praktis, <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Richard_Branson">Sir Richard Branson</a> mendefinisikan wirausaha sebagai:</p>
<blockquote><p>“An entrepreneur is somebody who is willing to go where others will not…”</p></blockquote>
<p>Jaman dulu, sebelum ada pendidikan kewirausahaan, ada pendapat bahwa kewirausahaan dan wirausaha disebabkan semata-mata oleh bakat. Tidak sepenuhnya benar, karena ternyata, menjalankan proses kewirausahaan dan menjadi wirausaha itu bisa diajarkan. Tentunya akan menjadi kelebihan tersendiri jika seseorang memiliki bakat yang biasa kita sebut &#8216;bakat dagang&#8217; dan sejenisnya. Tetapi dalam prakteknya, menjalankan proses kewirausahaan berarti bekerja. Bukan hanya masalah bakat apalagi keberuntungan.</p>
<p>Proses terjadinya kewirausahaan bisa diringkas menjadi beberapa langkah berikut:</p>
<blockquote><p>BAKAT &amp; MENTAL + KETERAMPILAN + LINGKUNGAN + TRIGGERING EVENT</p></blockquote>
<p>Jadi, bakat memang perlu. Tapi bakat saja tidak cukup jika tidak memiliki mental yang kuat, keterampilan, dukungan lingkungan dan apa yang disebut sebagai <em>triggering event</em>. Jadi, secara ideal, p<span lang="IN">roses </span><span>terjadinya</span><span lang="IN"> kewirausahaan adalah adanya suatu bakat terpendam dalam diri seseorang yang mempunyai mental kuat, yang kemudian belajar secara terus menerus sehingga memiliki keterampilan, memiliki lingkungan yang mendukung kegiatan dan mendapatkan momen pemicu yang menyebabkan seseorang memutuskan untuk berwirausaha.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://m.usik.us/kewirausahaan-apa-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>10 D sebagai ciri Wirausaha</title>
		<link>http://m.usik.us/10-d-sebagai-ciri-wirausaha/</link>
		<comments>http://m.usik.us/10-d-sebagai-ciri-wirausaha/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Feb 2009 11:35:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Robin Malau</dc:creator>
				<category><![CDATA[Thoughts]]></category>
		<category><![CDATA[Kewirausahaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://m.usik.us/?p=90</guid>
		<description><![CDATA[Seorang Entrepreneur memang sedikit berbeda dibanding dengan orang biasa. William Bygrave membuat daftar 10 D sebagai ciri kewirausahaan, yaitu: Dream (Mimpi) Wirausahawan memiliki visi atas masa depan seperti apa yang mereka dan usaha mereka ingin hadapi. Dan, lebih penting lagi, mereka memiliki kemampuan mengimplementasikan mimpi mereka. Decisiveness (Ketegasan) Mereka tidak pernah menangguh-nangguhkan waktu. Mereka membuat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-93 aligncenter" title="jewelry" src="http://m.usik.us/wp-content/uploads/2009/02/jewelry.jpg" alt="jewelry" /></p>
<p>Seorang Entrepreneur memang sedikit berbeda dibanding dengan orang biasa. William Bygrave membuat daftar <strong>10 D</strong> sebagai ciri kewirausahaan<span id="more-90"></span>, yaitu:</p>
<p><strong>Dream (Mimpi) </strong><br />
Wirausahawan memiliki visi atas masa depan seperti apa yang mereka dan usaha mereka ingin hadapi. Dan, lebih penting lagi, mereka memiliki kemampuan mengimplementasikan mimpi mereka.</p>
<p><strong>Decisiveness (Ketegasan)</strong><br />
Mereka tidak pernah menangguh-nangguhkan waktu. Mereka membuat keputusan dengan cepat. Kecepatan mereka merupakan faktor kunci kesuksesan mereka.</p>
<p><strong>Doers (Pelaku)</strong><br />
Sekali mereka menentukan suatu jenis tindakan, mereka melaksanakannya secepat mungkin.</p>
<p><strong>Determination (Determinasi)</strong><br />
Mereka mengimplementasikan usaha mereka dengan komitemn total. Mereka jarang menyerah, bahkan pada saat menjumpai kesulitan yang tampaknya tidak mungkin diatasi.</p>
<p><strong>Dedication (Dedikasi)</strong><br />
Mereka berdedikasi total terhadap bisnisnys, kadangkala mengorbankan hubungan mereka dengan kawan atau keluarganya. Mereka bekerja tak kenal lelah. Dua belas jam sehari dan tujuh hari seminggu bukan merupakan hal yang tidak biasa bagi seorang wirausahawan yang memperjuangkan tinggal landas bagi usahanya.</p>
<p><strong>Devotion (Pengabdian)</strong><br />
Wirausahawan mencintai apa yang dikerjakannya. Rasa cinta inilah yang menahan mereka ketika usaha mereka mendapat kesulitan. Dan rasa cinta akan produk atau jasa merekalah yang menyebabkan mereka sangat efektif dalam menjualnya.</p>
<p><strong>Details (Cermat)</strong><br />
Dikatakan bahwa setan berdiam dalam rincian. Tidak ada yang lebih tepat menggambarkannya daripada saat memulai dan meningkatkan bisnis. Wirausahawan harus menguasai rincian yang bersifat kritis.</p>
<p><strong>Destiny (Nasib)</strong><br />
Mereka ingin bertanggung jawab atas nasib mereka sendiri daripada bergantung kepada seorang atasan.</p>
<p><strong>Dollars (Uang)</strong><br />
Menjadi kaya bukanlah motivator utama bagi seorang wirausahawan. Uang lebih berarti sebagai ukuran kesuksesannya. Mereka menganggap jika mereka sukses, mereka akan diberi penghargaan.</p>
<p><strong>Distribute (Distribusi tugas)</strong><br />
Wirausahawan mendistribusikan kepemilikan bisnisnya kepada karyawan kunci yang merupakan faktor penting bagi kesuksesan bisnisnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://m.usik.us/10-d-sebagai-ciri-wirausaha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
